Talking about Goal-Setting: Thoughts Approved #1
Halo!
So this thing is definitely new for me because I'm
not an expert in psychology or educational-motivation-thing HEHE.
Yes, I'm a dentist
soon to be so I have no right to talk about this actually. Tapi aku nemuin
sebuah research article yang bagus
banget untuk diambil intisarinya, dan aku sangattt ingin sharing ke kalian yang mungkin juga lagi
melalui masalah yang sama: Goal-Setting:)
Semenjak Covid-19
mewabah, aku bener-bener jadi mempertanyakan eksistensi aku. Di rumah aku
bener-bener nggak ngapa-ngapain (I KNOWW
BOSEN BGT KAN). Karena aku mahasiswi yang harusnya koas tahun ini, dan koasnya
ditunda karena pandemi ini, aku jadi mulai menata ulang "goals" hidup aku. Tujuan hidup aku yang
bahkan belom konkret ini jadi semakin porak poranda karena udah pesimis duluan,
udah takut gak bisa lulus tepat waktu, udah takut ngelupain semua pelajaran,
dll dll.
Then, baru banget tadi, aku tertampar keras
ketika join livenya salah satu role model di perjalanan karir aku:
@frengkichua. (Halo koko! If you read this,
you'll know the role-model-talk is real!)
Di saat aku join livenya, omongannya langsungg tentang FIRST CAREER yang bisa menunjang tujuan hidup
kita kelak:)
JLEB BENER KAGA
TUHHH disaat mahasiswi koas ini aja belom tau nih kapan bisa lulus jadi dokter
gigi dan memulai pekerjaan:( Tapi good thing
tho, aku bener-bener jadi berpikir untuk kembali menata ulang tujuan
hidup aku.
Dan… aku jadi
bertanya-tanya, gimana sih Goal-Setting itu
sebenernya? Selama ini kita dihadapkan dengan tips dan trik dari
internet, dari akun motivasional, tapi aku belum pernah membaca sebuah artikel
penelitian, khususnya dari segi psikologi, terkait masalah penentuan tujuan
hidup.
Daaaan akhirnya aku
mulai mencari-cari artikel penelitian yang ada dalam bincang-bincang Ko
Frengki.
Dari talkshow
singkat itu, aku ngambil beberapa poin terkait "tujuan" nih:
Yang
pertama:
"Karir pertama
kita lebih baik mendukung tujuan/goals
jangka panjang. Jadi ketika kita punya pengalaman di karir tersebut, nanti
misalnya mau ambil S2 nih, acceptance
kita ke S2 lebih gampang."
"Kalau nggak
tau mau jadi apa gimana? Lebih baik kita harus tau end goalnya apa dulu, baru kita bisa punya perencanaan lebih
matang untuk menentukan pekerjaan pertama kita."
Itu dia. End Goal.
Iya, aku adalah satu
di antara banyak kepala dua lainnya (hampir kepala dua sih sebenernya) yang
belom tau tujuan hidup akhir aku terkait karir apa. Banyak hal yang menarik
perhatian aku sekarang, dan itu selalu berubah seiring perjalanan waktu,
walaupun sekarang memang aku mulai menemukan titik terangnya. Ya, walaupun
ujung-ujungnya emang udah pasti jadi dokter gigi sih, tapi karir dokter gigi
pun banyak guys:(
Tapi, walaupun
tujuan akhir itu belum final kalian tetapin, masih labil dan goyah, setidaknya
kalian punya sebuah tujuan untuk kalian pegang. Kenapa?
Emmons (1999)
berkata bahwa:
"These goals provide a sense of meaning and hence can contribute to the feeling of having a purpose in life."
Yap, sebuah tujuan
itulah yang memberikan kita sebuah "rasa kemaknaan" yang penting
dalam hidup.
Akhir-akhir ini aku
merasa nggak punya eksistensi dalam hidup, males-malesan mau ngelakuin apapun
(kerjaannya netflix-an doang) karena aku merasa tujuan akhir aku lagi
terguncang.
McKnight &
Kashdan (2009) berkata:
"Life goals in
particular can provide centrality to a person’s
identity and give direction to chosen daily activities."
Lagi-lagi tertampar.
Tiba-tiba langsung dicambuk gitu disuruh mulai menciptakan tujuan, entah itu
kecil untuk aku laksanain sehari-hari atau tujuan besar lain yang aku rasa
mampu untuk aku capai BIAR KAGA MALES-MALESAN LAGI TIAP HARI WKWKWK. Dimulai
lah hari ini Kiarra tiba-tiba belajar GRE
Vocabulary demi menunjang karir kelak:)
Terus,
kedua, Ko Frengki juga bilang:
"Dalam
penentuan goals hendaknya kita membuat goals yang SMART: Specific, Measurable, Attainable, Relevant, and Time-bound. Kalo
bisa tulisin di dream book supaya bisa
diliat terus."
"Misalnya,
jangan bilang mau kaya. Kita convert
jadi suatu goal yang spesifik, misalnya
saya nanti mau dapat gaji 10 juta sebelum usia 25 tahun. Nah, ini kan jelas,
terukur, ada waktunya, mungkin dicapai."
Lagi-lagi jadi
refleksi ke diri sendiri.
Sudahkah aku
menetapkan tujuan yang spesifik dan terukur? Pas masih kuliah sih bisa ya,
terkait nilai, atau sekadar tujuan yaa minimal kaga remed. Tapi, sekarang
ketika terluntang-lantung ini aku sama sekali nggak punya tujuan yang terukur:(
Pas dengerin
bincang2 Ko Frengki sama Kak Jefri, aku langsung keinget tentang suatu teori
Goal-Setting. YANG FINALLY bisa aku temuin lagi wkwk. Namanya Goal Setting
Theory (GST) oleh Locke dan Latham.
"GST states
that the effect of a goal on performance is dependent on its specificity and difficulty level."
Yap! Ada dua hal,
tingkat kespesifikan (kekhususan) dan tingkat kesulitannya.
Kalau kita bedah dua
pengertian ini, spesifik maksudnya tingkat ketelitian secara kuantitatifnya
bisa menciptakan sebuah tujuan tanpa membuat tafsir ganda. RIBET YA WKWK:P
Intinya, dengan kita
menciptakan suatu tujuan yang khusus, otomatis kita fokus ke satu tujuan itu,
nggak akan ada belok kemana-mana dalam perjalanan menuju tujuan itu. Dan juga,
harus terukur secara kuantitatif, persiss banget sama contoh Ko Frengki di atas.
Kalau kesulitan
tujuan itu menyatakan persepsi kita terhadap kemahiran yang kita miliki untuk
menggapai tujuan itu, jadi sifatnya subjektif dari diri kita.
Nah, kekhususan dan
kesulitan yang seperti apa yang harus kita miliki?
Alessandri et al.
(2020) bilang:
"Students’
self-set goals were associated with higher performance if the goals were highly specific and of moderate difficulty."
Jadi, kudu spesifik
banget nih, superr jelas, isinya kita mau ngapain, berapa banyak, berapa lama.
Misalnya belajar 30 halaman dalam waktu 3 jam contohnya.
Moderate difficulty berarti kita merasa tujuan
itu membutuhkan usaha, tapi nggak sampe bikin kita frustasi.
Yang
ketiga:
"Gimana
actionnya? Kita telusurin setiap tahap yang dibutuhin untuk menuju ke end goal kita. Jadi kita harus nge-breakdown segala tahap yang harus kita lalui
sebelum menuju end goal. Jadi kita
ketika hilang motivasi, ngerasa loss,
kita masih bisa refer back lagi. Jadi
ada top up motivasi lagi."
Beberapa penelitian
ngebagi tujuan jadi dua, proksimal dan distal.
Proksimal itu
tujuan-tujuan kecil yang bisa dicapai dalam waktu dekat, yang nantinya gabungan
tujuan proksimal ini akan berakhir pada tujuan distal. Nah, yang dimaksud Ko
Frengki ternyata ini guyzz!!!
Dalam beberapa
penelitian itu, dinyatakan kalo kita fokus kepada tujuan kecil dan tujuan akhir
(nggak cuma end goalnya doang), kita
akan lebih mungkin meraih tujuan itu.
Alasannyaaa karena
kalau misalnya nih, kita cuma mikirin tujuan besarnya tanpa memasang target
untuk tujuan kecilnya. Eh, tiba-tiba tujuan akhir kita goyah, kita bingung
harus memperbaiki dari mana untuk kembali pada jalan untuk menuju tujuan itu.
Kalau kita fokus menargetkan tujuan-tujuan kecil juga, kita akan lebih mudah
merasa puas ketika setiap tujuan itu satu persatu tercapai, terus juga jadi
lebih mudah untuk "feedback"
setiap kita selesai ataupun gagal dalam mencapai target itu. Tapi, tetap inget,
kita juga harus tetap berada di jalan end goal
kita. Jangan sampe tujuan-tujuan kecil itu malah ngawur kemana-mana lepas dari
jalan tujuan akhir kita:)
MAKANYA Kiarra
Vashti tiba-tiba galau karena big goalnya
mundur timeline-nya. PADAHAL NIH YE
setelah ditelusuri dari tujuan-tujuan kecilnya tuh nggak ada yang terganggu.
Malah jadi memperpanjang waktu untuk menambah "kualitas diri" sebelum
berakhir di tujuan besar yang mau nggak mau mundur itu timeline-nya.
This concept is real sih gengs, buat aku. #nangis
Yuk semangat yuk
tetap bermimpi dan mengubah mimpi menjadi rencana, sampe rencana tersebut jadi
kenyataan!
HWADAAAW ngomong sih
gampang yaa temen-temen:(
Aku sendiri pun
masih struggling sama masalah tujuan
hidup ini. TAPI HAYUK SAMA2 BERJUANG YAKKK!!!
With loveeee,
Kiarra<3
Comments
Post a Comment