Bersyu? kur

Sefruit cerita tentang anak nakal yang suka mencuri ketimun kesulitan bersyukur.

---

Hari ini aku melewati salah satu daerah di dekat kampusku. Daerah ini dekat stasiun, dan dekat dengan dua mall ternama di kota rantauanku ini. Bisa kalian bayangkan betapa padatnya daerah ini, terutama di jam-jam ketika para pekerja baru pulang dari kantornya atau jam-jam santai di akhir minggu.

Aku selalu membenci daerah ini.
Mau berjalan saja sulit. Pejalan kaki, motor, mobil, pedagang, pangkalan ojek semuanya berkumpul jadi satu. Belum lagi aspal yang sudah bobrok dan sering sekali tergenang air, entah itu air hujan atau air cucian pedagang. Belum lagi asap dimana-mana, entah itu asap kendaraan atau asap tukang sate yang nimbrung dengan hebohnya. Intinya, sumpek dan padat.

Aku harus melewati daerah yang heboh ini untuk mencapai mall. Setelah lupa mengurus diri sendiri, sudah kuputuskan hari ini aku harus mulai membeli keperluan rumah tangga (baca: kosan) mulai dari bahan makanan hingga peralatan bersih-bersih. Sudah hampir 1 minggu aku nyaris lumpuh. Dimulai dari kelelahan paska pementasan, diare, flu ringan hingga berat, demam, sampai radang tenggorokan. Semuanya muncul satu persatu berurut selama seminggu ini. Mungkin efek dari tubuh yang kelelahan, atau mungkin ada pengaruh dari udara Jakarta yang semakin hari semakin ganas? Entahlah, jangan menyalahkan keadaan. Memang aku saja yang sedang lemah dan manja.
Oh, ditambah lagi dengan beberapa hal (ralat: banyak hal) yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Memang dunia hebat sekali menumpukkan semua hal menjadi satu di otakku sampai aku tak tahu lagi yang mana yang prioritas untuk diselesaikan. Sudah seperti revisi dosen yang rasa-rasanya tak ada habisnya saja. Oke, lagi-lagi Kiarra mengeluh.

Kembali ke daerah heboh ini.

Aku melewati kerumunan manusia yang simpang siur. Sesekali aku tertoleh pada kostum-kostum badut yang tertidur kelelahan menghibur. Adapula anak-anak penjual tisu yang meringkuk membungkus kakinya kedinginan. Adapula ibu-ibu yang menggendong bayi yang tengah menangis meronta. Adapula kakek-kakek penjual semprong yang jualannya tampak tak berkurang. Aku sadar bahwa aku tak pantas membenci daerah ini. Bagaimanapun juga, daerah ini mengandung harapan, cinta, dan rezeki dari banyak manusia. Mengapa aku membenci sesuatu yang berharga bagi orang lain?
Aku berjalan dalam keadaan perut meraung. Keadaan ini membuatku ingin mengeluh. Namun aku segera membuang keluhan itu jauh-jauh karena aku tahu aku tak pantas mengeluh bahkan diujung lidahku pun. Masalahku jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan masalah mereka.

Singkat cerita, sebelum memulai mengajar sore ini, aku disuguhkan teh oleh ibu sang anak. Tidak bisa menolak, aku meminum teh dalam keadaan perut kosong, sama sekali tak ada isinya dari pagi kecuali air putih. Alhasil beginilah, perutku meronta.
Akhirnya aku menghampiri sebuah warung makan legendaris teman-teman dekatku. Tidak begitu enak, tapi murah. Disebut legendaris karena letaknya tepat di sebelah kosan tongkrongan anak-anak cowok. Tak jarang di malam hari mereka (terkadang "kita") makan dan ngopi di warung tersebut. Aku memesan beberapa bungkus nasi.
Saat aku sedang sibuk melihat-lihat tweet receh dan ngekek-ngekek aneh sendiri, tiba-tiba aku merasa ingin pingsan.

Bukan, bukan karena aku terlalu receh sampai lemas tertawa.
Tiba-tiba aku merasa pusing, seakan dunia bergoyang. Aku melihat sekeliling dan kutemukan gembok dan rantai yang juga bergoyang.

Emang goyang, goblok.

Pikiranku saat itu didukung dengan mamang-mamang di seluruh penjuru gang yang keluar dan teriak-teriak "GEMPA". Awalnya aku tak ingin keluar, gempanya tidak besar. Namun, mbak-mbak yang masak saja sampai meninggalkan telurku mandi terkapar di minyak demi menyelamatkan dirinya:) Otomatis aku ikut-ikutan keluar:)

Oke, singkatnya tidak ada gempa susulan, dan aku mendapatkan beberapa nasi yang kupesan.

Aku membagikan makanan ke anak-anak, ibu-ibu, dan kakek-kakek yang kutemui sepanjang perjalananku. Aku yang akhir-akhir ini merasa rendah diri dan merasa tidak dibutuhkan oleh dunia, seakan hidup dan mekar kembali. Uang yang aku keluarkan tidak seberapa, namun kebahagiaan yang aku terima sudah lebih dari sekadar cukup.
Kiarra yang uring-uringan selama seminggu akhirnya melunak. Untuk apa memikirkan masalah yang tidak seberapa itu? Selagi aku masih bisa makan (pangan), berbaju (sandang), dan memiliki tempat tinggal (papan), aku sudah diberikan hidup yang cukup. Hanya tiga itu, kan, poin kebutuhan primer manusia? Apalagi aku yang masih diberikan rezeki pendidikan, uang, dan manusia-manusia yang selalu ada untukku. Mengapa aku masih saja mengeluh dan merasa masalah hidupku berat?

Stop galau. Galau cuma bikin produktivitas berkurang. Galau cuma bikin kamu berhenti berjalan.
Banyak orang yang membutuhkanmu, kamu harus tetap bergerak.
Berjalanlah, berlari yang jauh.
Ulurkan tanganmu ke segala penjuru.
Mereka membutuhkanmu.

You're worth it!
It's a better world because you're here:)

-ky, 020819

Comments

Popular Posts