Dua anak, bermain api.


Anak laki-laki bermain, sendiri.
Tak ada yang tertarik, tak ada yang peduli.
Aku sadari pesonanya, sepertinya ia teman bermain yang baik.
Aku hampiri ia, berhati-hati, takut rok dan sepatu sekolahku kotor.
Mama bisa marah.

Aku memungut ranting, ia memungut ranting.
Awalnya kami tak tahu apa yang bisa kami lakukan, hingga kami mendekat.
Kami menggesekkan kedua ranting bersama, perlahan tapi pasti.
Awalnya kami bahagia hanya dengan menggesek ranting tanpa terjadi apapun, sampai gesekkan itu semakin kuat.

Dan,
api muncul.


Awalnya kecil, itu nikmat.
Hangat.

Senang akan api yang ada, kami penasaran membuatnya besar.
Awalnya ia tambah ranting, sedikit demi sedikit.
Aku tak sadar bahwa menambah ranting adalah caranya, hingga aku mengerti.
Aku ikut menambah ranting, sedikit demi sedikit.
Api kian membesar.

Ini menyenangkan.
Tubuh kami dilingkupi kehangatan yang menentramkan.
Ini membahagiakan untuk kami berdua saat itu.

Namun, api kian membesar.
Menyulut ke segala arah, karena ia tak tahu harus kemana.
Kami belum cukup dewasa, kami tak tahu apa yang harus kami lakukan.
Ini terlalu berbahaya untuk anak kecil seperti kami, yang masih belajar bermain api.


Mungkin ini salahku sejak awal.
Aku menyukai api, tapi aku tak ingin menjadi sebesar ini.
Memang, kesalahanku karena membiarkan kobaran ini semakin membesar.
Ini akan membahayakan kami berdua jika salah satu dari kami tidak berhenti.
Kami akan terbakar habis jika salah satu dari kami tidak sadar untuk segera berhenti.

Akulah orangnya.
Akulah seseorang yang sadar bahwa ini sudah sangat berbahaya untuk kita.

Aku mundur, dengan sigap.
Selangkah demi selangkah, dari permainan ini.
Aku berusaha menjaga diri ini bebas dari api, walau kutahu ini terlampau dingin.

Aku tahu ini tidak baik untuknya juga, aku tahu ia pun kedinginan juga di seberang sana.
Aku tak ingin sepenuhnya berhenti sebenarnya, aku hanya ingin api ini tetap kecil seperti sedia kala.
Mungkin aku terlalu egois, karena menentukan semua ini sendiri.
Mungkin aku bodoh, karena berlari mundur seenaknya saja tanpa pamit.

Tanpa sadar, ia sudah mengambil ranting lain.

Ia temukan teman lain, yang juga sedang memegang ranting.
Ia hampiri teman barunya, membuat api bersama.

Mungkin ia rindu akan api, yang tak bisa aku berikan untuknya.
Mungkin ia mencoba melupakan kesenangan bermain api bersamaku, dan mencari teman baru untuk perlahan melupakan permainan denganku.
Mungkin ia bahagia karena teman barunya bisa membuat api sesuai keinginannya.
Mungkin ia bahagia karena teman barunya lebih menyenangkan dibandingkan aku.
Mungkin.
Mungkin, lagi-lagi mungkin.
Aku hidup dengan segala asumsi yang semakin mendinginkan jiwa dan raga ini.

Aku memanggilnya berulang kali, hanya untuk memastikan ia baik-baik saja dalam kehangatan barunya.
Ia menoleh sesekali, melihatku dengan apiku yang semakin meredup,
aku yang semakin kedinginan seorang diri.

Sebagaimana inginnya aku agar dia kembali, aku tak mampu.
Aku tak ingin kejadian yang sama terulang kembali.
Lagipula, rantingnya sudah ia berikan untuk teman barunya disana,
dan bukan untukku.
Aku tak ingin egois.
Aku tak mungkin menghancurkan kebahagiaan barunya, walau ini sebenarnya menyakitiku.
Aku tak mungkin pula memutar kembali waktu.

Aku memanggilnya kembali, memastikannya baik-baik saja lagi.
Ia kembali menoleh.
Hatiku sakit setiap kali ia melihatku.
Ini sulit bagiku.

Apiku kian meredup.
Aku tak tahu apakah aku harus berjuang mencari ranting ini sendiri atau membiarkannya mati perlahan.

Aku tak tahu apakah suatu saat ia akan mengerti maksudku.
Yang kutahu, dan yang terlihat, ia bahagia dengannya.
Dengan api kecil mereka.
Sementara aku disini masih dalam keraguan.

Cari ranting, biarkan, cari ranting, biarkan, cari ranting?
Aku menghitung kancing baju sekolahku.
Lalu aku sadar, pilihan ini tidak sesederhana itu.

Ah,
Aku tak tahu harus apa.
Aku sudah terlalu lama bermain api, sampai lupa bagaimana rasanya tanpa kehangatan.
Aku hanya pernah bermain bersama, aku tak tahu bagaimana caranya untuk tetap bertahan menjaga api ini seorang diri.
Karena aku tak pernah.
Atau, aku hanya harus membiasakannya?

Cari ranting, biarkan, cari ranting, biarkan, cari ranting, biarkan?
Aku menghitung kancing baju sekolahku lagi.

Kemudian terdiam.
Cukup lama, berpikir.

Apa?
Apa yang harus kulakukan untuk menentukan?


-ky

Comments

Popular Posts