Aku VS Duniaku

Hey,
Aku Kya.

Banyak sekali hal yang sudah terjadi ketika aku menginjak usia 19 tahun ini. 1 tahun menuju kepala dua, rasanya banyak hal yang kurasakan, banyak hal pula yang berubah.

Dari awal aku mengenal yang namanya dunia perkuliahan, aku selalu merasa bahwa aku lemah dan tidak siap untuk menghadapi peliknya dunia itu. Apa yang kalian harapkan dari anak usia 16 tahun? Berkuliah? Rasanya secara mental hal ini terasa menyakitkan, setidaknya bagi pikiranku saat itu.

Namun, ternyata kenyataan tidak semenakutkan itu. Bukan, bukan karena aku tidak menangis ataupun tidak pernah merasa bahwa semua ini adalah hal yang berat. Tapi semua hal yang menyedihkan dan berat ini tidak menakutkan karena aku punya dua kaki untuk berdiri tegak. Jika aku tak mampu? Syukurlah kaki diciptakan dengan sepasang lutut pula. Ketika aku tak mampu tegak, aku punya lantai untuk aku sujudkan. Dan aku juga punya sebuah zat yang senantiasa mendengar kelemahanku di atas lututku ini. Aku kuat, karena diriku sendiri. Diriku bisa kuat, semua karena-Nya.

Bicara tentang diriku sendiri, ada pula pengaruh dari manusia-manusia yang berlalulalang.
Banyak orang yang datang dan pergi seiring berjalannya kehidupan ini. Entah itu hanya sekadar menyapa hingga membantuku berlari, atau hanya sekadar memalingkan wajah hingga meludah dan mencaci maki. Dan aku tahu seluruh manusia itu diciptakan spesial untukku, semuanya sayang-sayangku.

Termasuk yang meludah? Termasuk yang meludah.

Ludahnya aku jadikan saja lap kacamata. Agar aku bisa memandang kehidupan yang ternyata keras ini lebih jelas. Anjay.

Tolong dijadikan quotes hidup kata-kata di atas itu, termasuk "anjay"nya, terima kasih:)

Ya, kembali lagi, semalaikat-malaikat ataupun setai-tainya mereka, aku hidup sebagai seorang Kya sekarang pun karena mereka. Aku dipuji, dihina, diangkat, dihempas, semuanya semata-mata agar aku bisa berdiri tegak dan mungkin suatu saat nanti bisa terbang.
Aku tidak pernah menyesali apa yang terjadi di dunia ini, semua karena aku tahu, bahwa dunia sudah repot-repot membentuk dan mengasah seorang Kya. Aku yakin, duniaku sendiri jelas tidak akan mengkhianati aku. Setidaknya, walaupun saat itu aku sedih dan kecewa, aku tetap harus mengucapkan terima kasih kan? Kelak rasa terima kasih itu akan menyadarkan dunia bahwa aku semakin kuat setiap harinya, dan dunia tidak akan mengulang ujian yang sama jika ia tahu bahwa aku sudah semakin ikhlas dengan indikatornya adalah aku yang semakin bisa berterima kasih kepadanya.

Aku VS Duniaku?

Aku melawan duniaku? Untuk apa?
Dunia ini milikku kok, ibarat film, dunia ini adalah skenario dimana aku adalah pemeran utamanya.
Tidak mungkin kan pemeran utama mati di tengah film?
Duniaku pasti memihak diriku, aku yakin itu.
Aku tidak perlu melawannya, aku hanya harus yakin bahwa apa yang aku jalani sekarang adalah yang terbaik untuk akhir ceritaku kelak.


Comments

Popular Posts