Teruntuk kalian yang telah berjuang...

Jadi, hari ini pengumuman SBMPTN, ya? Hehehe.
Wah, time flies. Gak kerasa udah 2 tahun yang lalu aku ada di posisi kalian.

Pasti kalian deg-degan. Belakangan ini kalian pasti menjadi lebih sering menghantarkan seluruh doa dan harapan kepada Tuhan.
Tenanglah, teman-teman.
Tuhan tidak tidur.

Tuhan tahu keinginan kita, semua.
Namun ingat pula,
Dia lebih mengetahui kebutuhan kita.

Pada masanya, aku berdoa untuk diluluskan FKG Unpad, FKG Unpad, FKG Unpad, tidak lain dan tidak bukan harus FKG Unpad. Aku ditolak SNM, dan masih tetap keukeuh ingin ambil Unpad pada SBM, apapun yang terjadi.
Aku berdoa, shalat malam, bersujud kepada-Nya. Namun kali ini doaku berganti, berbeda dari saat aku SNM kemarin. Aku tidak minta diluluskan FKG Unpad, aku minta diberikan petunjuk agar aku selalu dalam lindungan-Nya, agar aku diberikan jalan yang terbaik menurut-Nya.

Saat itu, kurang dari 2 minggu sebelum SBM. Nilaiku masih sama saja, standard. Aku dihadapkan pilihan sulit mengenai jurusan yang akan aku ambil.
Saat itu, aku memiliki sebuah prinsip. Biarlah aku mengulang hingga 2 tahun, aku akan tetap berjuang mendapatkan FKG di universitas yang aku mau. Semua tekanan itu jauh lebih baik dibandingkan aku memilih kuliah di FKG lain di wilayah yang tidak aku inginkan, atau aku memilih jurusan lain yang tidak aku inginkan. Berkuliah di wilayah yang tidak aku inginkan akan membuatku tidak nyaman, apalagi di jurusan yang tidak aku inginkan. Ketidaknyamanan itu akan berlanjut hingga aku bekerja kelak.
Aku sangat kagum kepada orang-orang yang bisa ikhlas menerima pilihan lain selain yang mereka inginkan. Keikhlasanku hanya bisa kutanam pada ikhlas mengulang, menganggur hingga benar-benar mendapatkan hal yang kuinginkan. 
Salah? 
Aku rasa tidak.
Semua orang memiliki toleransi terhadap risiko dan tingkat keikhlasan pada hal yang berbeda-beda, bukan?

Pilihan yang kuambil saat itu:
1. FKG Unpad
2. Teknologi Bioproses UI
3. ?

Aku tidak tahu ingin memasukkan apa ke pilihan ketiga. Namun, jika tidak aku pasang, maka seperti aku menyia-nyiakan satu pintu yang mungkin terbuka lebar. Namun pula, jika aku pasang pada hal yang tidak kuinginkan, aku mungkin tidak sanggup untuk menjalaninya bilamana aku diluluskan. Entah kenapa, hatiku juga tidak tergerak (tidak digerakkan oleh Tuhan) untuk menaruh sesuatu di pilihan ketiga tersebut.
Guruku terus memberikanku jurusan-jurusan untuk pilihan ketiga. Tapi sia-sia saja, aku sudah menyapu seluruh daftar jurusan di setiap universitas yang aku inginkan dan yang tidak aku inginkan (kali-kali saja aku berubah pikiran), tetapi hasilnya nihil.
Lantas, ia menyarankanku untuk mengambil satu pilihan di atasnya, dan menggeser semua pilihanku ke bawah. Dia berkata bahwa aku ingin FKG, dan aku tidak masalah dengan UI, mengapa tidak mengambil FKG UI di atas semuanya?
Aku sontak kaget, merasa tidak mungkin, merasa tidak mampu. Untuk mencapai FKG Unpad saja aku tak mampu, apalagi mengambil yang lebih tinggi darinya? (Pada bimbelku, passing grade FKG UI lebih tinggi; bimbel berbeda-beda)
Entah kenapa, mulutku tiba-tiba berbicara "Oke pak, kalo nilai TO saya setelah ini lebih tinggi dari 50%, saya ambil FKG UI."

Yak, Kiarra, berjanji, kepada bapak tersebut, kepada dirinya sendiri, yang didengar oleh Tuhan.
Dimulailah hari-hari penuh was-was seorang Kiarra karena sebentar lagi pendaftaran SBM akan ditutup.

Satu minggu itu benar-benar dijalani dengan biasa saja. Tidak ada progres berlebihan untuk belajar. Bahkan, biasanya aku menulis catatan dengan lengkap, minggu itu benar-benar degradasi. Ditambah lagi aku jadi sering jalan-jalan (teman sekelasku berubah saat itu dan mereka suka jalan-jalan, jadi yap....) Namun, doaku terus berlanjut, minta yang terbaik untukku, minta diberikan jawaban atas apa yang harus kupilih.
Ketika pengumuman nilai TO ditempel, sungguh aku kaget bukan main. Masalahnya, aku membuat janji seperti itu bukan tanpa dasar. Aku bahkan merasa janji itu merupakan janji yang hampir tidak mungkin tercapai. Selama ini nilaiku terbatas di 30an, baru beberapa kali menyentuh angka 40. Namun, kali ini...

Nilaiku di atas 50%?
Iya.

Berapa nilaiku?
55?
53?
52?
51?

Tidak.

Jadi?

Nilaiku 50,5%.
,5%-nya sungguh terasa bercanda.
Sepertinya waktu itu aku mematung sebentar di depan papan pengumuman nilai tersebut.
Aku berjalan kembali ke kursiku dengan sebuah pikiran yang melanda,

Aku harus ambil FKG UI.

Bagaimanapun aku sudah berjanji, terlebih kepada diriku sendiri.

50,5% itu masih tidak mencapai passing grade FKG UI saat itu.
Aku mungkin terlalu subjektif, tetapi entah mengapa aku merasa itu merupakan jawaban dari Allah sekaligus juga tamparan bagiku. Seakan-akan Allah berbisik lembut pada telingaku "Kya, kamu harus ambil FKG UI. Nilai ini hanyalah sebagai bukti bahwa Aku bukakan rezekimu di sana. Namun, nilai ini bukanlah apa-apa dari kemampuanmu. Kamu bisa, tetapi kamu tidak boleh sombong. Ingat, nilaimu masih bukan apa-apa. Berjuang keraslah, jauh lebih keras dari apa yang kamu lakukan kemarin."

Aku tidak ingat berapa kali aku mengucapkan syukur kepada-Nya. Aku juga tidak ingat berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk bersujud. Aku tidak ingat pasti pula bagaimana aku belajar saat itu. Yang aku tahu, semua yang awalnya aku lakukan biasa saja, meningkat menjadi luar biasa. Seperti ada sebuah dorongan dari atas yang aku tidak tahu pastinya dari mana. Yang aku tahu, dorongan itu benar-benar membuatku berjuang.

Aku gembar-gembor mengabarkan seluruh keluarga dan teman-teman bahwa aku akan mengambil FKG UI, meminta doa dan restu mereka semua.

Apakah aku akan malu jika aku terlalu semangat tetapi nantinya tidak lulus?
Tidak.
Mengapa harus malu?
Kita tidak tahu, kan, doa siapa yang paling mustajab (yang dikabulkan tepat sesuai dengan harapan orang tersebut) diantara orang-orang yang mendoakan kita?

Di akhir cerita,
disinilah aku.

FKG UI 2016.

Dengan seluruh kesulitan dan kebahagiaan yang ada menimpaku, yang alhamdulillah aku kuat ada disini.

Seluruh usaha, tekad, dan doa yang aku panjatkan, alhamdulillah semuanya diberi jawaban oleh Allah SWT. Aku bersyukur aku mengikuti setiap alur skenarionya dengan baik, yang mengantarkanku pada takdirku sekarang ini.

Teruntuk kalian yang berjuang,
ada kalanya perjuangan itu tidak berakhir seperti yang kita harapkan.

Walaupun kita telah berdoa, tunggat-tunggit bersujud, memuji nama-Nya, berserah diri kepada-Nya,
dan harapan tersebut tidak juga menjadi nyata,
bukan berarti Tuhan tidur.
Bukan berarti pula Tuhan membencimu.

Kamu tahu apa yang kamu inginkan.
Kamu pun merasa tahu apa yang kamu butuhkan.
Namun, jangan lupakan Tuhan sebaik-baiknya pencipta.
Ia pasti tahu apa yang kamu butuhkan, lebih dari yang kamu ketahui
Kamu mungkin tahu apa yang kamu butuhkan selangkah ke depan,
tetapi Tuhan tahu apa yang kamu butuhkan dua, tiga, puluhan langkah ke depan.
Tuhan Mahabaik.
Ia sayang seluruh hambanya.
Ia tidak ingin hambanya celaka dalam keputusannya yang tergopoh-gopoh.

Sesungguhnya Tuhan Mahatahu.
Ia tidak tidur.
Ia tidak tuli.
Ia ada bersamamu.
Kamu hanya harus percaya akan setiap skenario yang Ia berikan.
Katakan saja dialognya, turuti saja kemauan-Nya.
Kamu akan menemukan akhir yang bahagia itu kelak, bukan sekarang.

Kamu boleh bersedih.
Namun, kamu tidak boleh tidak ikhlas.
Kamu tidak boleh pula meragukan kepercayaanmu pada-Nya.

Laa tahzan,
Innallaha ma'anna.
Jangan bersedih,
sesungguhnya Allah ada bersamamu.

Comments

Popular Posts